Kamis, 04 September 2008

Samarinda adalah destinasi kedua bersama Koper dan Ransel. Team kali ini saya, Mba Ifa, Ninda, mas Allen, mas Mufthi, Mas Wendy dan kedua host kami Joe dan Nita. Kesan pertama tentang Samarinda adalah gerah, ouch, terik sih nggak yah tapi gerah banget. Kemungkinan terbesar karena di Pulau Kalimantan tingkat kelembabannya memang tinggi. Pertengahan Agustus lalu, kami berangkat dengan penerbangan paling pagi (seperti biasa). Saya sangat excited, karena this gonna be my first trip in Borneo. Saya membayangkan materi shooting yang pasti akan menarik, menyusuri Sungai Mahakam, mengunjungi desa budaya Pampang Suku Dayak Kenyah dan menikmati Tenggarong dari sky tower di Pulau Kumala. Setelah dua jam penerbangan, kami mendarat di Balikpapan dengan selamat. Saya sempat deg-degan juga karena lokasi Bandara Sepinggan dekat dengan laut yah, jadi beberapa menit sebelum landing pesawat sempat berputar-putar dekat sekali dengan air. Tapi harga memang ga menipu, pesawat milik maskapai penerbangan terbesar di Indonesia berhasil mendarat dengan mulus...yipppeee, Borneo here I come!


Dari Balikpapan, kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menuju Samarinda tapi perjalanan terasa menyenangkan dan tidak memabukkan padahal jalannya berkelok-kelok. Maklum, sepanjang jalan isinya bercanda...hehe...seru! Sampai di Samarinda, langsung mengisi bahan bakar buat perut, karena kami akan langsung shooting. Atas rekomendasi driver yang mengantar kami, kami memutuskan makan di Akmal yang kata Pak Bondan makanannya maknyuss. Benar lho, makanannya enak meski tempatnya biasa dan harganya mahal banget. (*moral of the storynya harus nanya-nanya range harga sebelum makan...hihi*). Setelah kenyang, kami langsung shooting di tepi Sungai Mahakam, Islamic Centre, Kios Amplang Bu Rita dan Jinggo Kribo bareng Joe karena host Koper, Nita baru akan menyusul esok sorenya. Puji Tuhan, shooting-nya lancar bahkan kami masih punya waktu istirahat yang lumayan. Oyah, jinggo itu semacam angkringan di Jawa, tapi warungnya lebih luas dan makanannya lebih beragam, saya kalap melihat beraneka makanan yang sepertinya seru tapi sekuat tenaga menahan diri mengingat perjalanan Koper ransel pertama saya di Jawa Tengah menambah beberapa kilo pada bobot tubuh saya...hehe, jadi untuk trip ke Samarinda saya memang niat ga ngemil;p. Malamnya kami makan malam di sebuah warung Banjar yang ramai tanpa Joe. Soto Banjarnya mantabb...enak! Sayang saya lupa namanya:(


Hari kedua di Samarinda, kami akan shooting di Desa Budaya Pampang. Kawasan Pampang yang terletak sekitar 20 km dari kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah. Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan raya Samarinda-Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah. Ekspektasi saya sih sudah tinggi banget membayangkan sebuah budaya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang patut diacungi jempol adalah Desa ini membantu wisatawan lebih mudah melihat dari dekat budaya Suku Dayak yang unik dan kaya tanpa perlu mblusuk ke pedalaman. Namun, sayang, entah karena kurang pembinaan atau memang daya ekonomis penduduk yang rendah (sehingga mereka sangat membutuhkan uang) sehingga setiap orang yang kami temui disana sangat komersil bahkan anak kecil berusia 2,5 tahun sudah bisa meminta uang agar bisa berfoto bersamanya dengan pakaian adat yang unik. Saya prihatin, dan berpikir biarlah selama membantu mereka.


Kami juga sempat mengunjungi Pulau Kumala . Pulau Kumala merupakan sebuah pulau kecil yang terletak ditengah-tengah sungai Mahakam di wilayah kota Tenggarong. Pulau seluas 76 ha ini kini sedang digarap untuk dijadikan salah satu obyek wisata andalan kota Tenggarong. Fasilitas yang telah rampung dan dapat dinikmati para pengunjung adalah kereta api keliling pulau, Sky Tower dimana para pengunjung dapat menikmati panorama kota Tenggarong dari ketinggian 75 meter dan cable car atau kereta gantung yang menghubungkan Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala. Berbagai macam fasilitas yang akan dikembangkan adalah arena permainan anak dan keluarga, Aquarium Pesut Mahakam, Lamin atau rumah adat suku Dayak, cottage dan lain sebagainya. Selain menggunakan cable car, Pulau Kumala juga dapat dicapai dengan menggunakan perahu motor/ketinting yang tersedia di dermaga kota Tenggarong. Sayang sekali, pas kami datang kereta gantungnya sedang rusak.


Ingin belanja oleh-oleh di Samarinda? Datang saja ke Kompleks Citra Niaga, dijamin aneka souvenir dan aksesoris khas Kalimantan yang serba batu dan manik akan melenakan. Yang ada semua pengen dibeli...hehe. Masalah harga relatif, jadi harus pintar menawar.


Overall, judul trip kali ini adalah ceria... pekerjaan hampir selesai (ingat, masi ada editing) dengan lancar...dan suasana kerja yang menyenangkan membuat perjalanan semakin berkesan:)
posted by ninabelle at 11.37 |

0 Comments: