Selasa, 20 Oktober 2009
Selamat pagi langit biru, terimakasih sudah menggantikan mendung itu. Selamat pagi angin, terimakasih telah menyapu si mendung.

Mendung sialan yang dengan suksesnya mencuri keceriaan. Tenggelam dalam hantu kelabu yang hati tak mampu mendefinisikannya, entah takut, entah khawatir tapi saya hampir selalu bangun pagi dalam resah bahkan kadang mata bengkak dan kepala pening..huh..sangat menyebalkan! Kini semoga gloomy mood yang berasal dari dunia antah berantah itu lenyap total tak berbekas dan tak kembali...hehe...capek tauk! Seperti tergagap melakukan apapun, serba salah, sensitif, tak terarah, kacau, moody, panik.

Mataharipun kadang tertutup awan, namun matahari selalu kembali bersinar cerah membagi nyalanya untuk dunia. Ganbatte kudasai;)
posted by ninabelle at 10:58 | 0 comments
Selasa, 06 Oktober 2009
cerita yang indah dan inspiratif yang saya kutip dari email yang dikirim seorang sahabat
terima kasih Dee:)

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba-tiba saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona". Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya". Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk, suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran, saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan batin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
posted by ninabelle at 15:48 | 0 comments
Jumat, 25 September 2009
Sayang,
pagi ini rasanya malas sekali bangun dari tidurku
sepi itu tiba-tiba menyergapku dengan membabi buta
bagaimana aku akan menghadapi hari ini...
apakah karena mimpi buruk yang semalam menghantuiku
atau tugas yang membayangiku...
ah...aku tau kau masih menggenggam tanganku
lalu kubernafas dalam-dalam...
dan aku percaya semua akan baik-baik saja
posted by ninabelle at 17:50 | 1 comments
Rabu, 26 Agustus 2009
Tiga tahun berlalu, telah saya tinggalkan dunia yang warna warni penuh tawa polos itu dengan keriuhan dunia lain yang tak kalah berwarnanya namun dengan versi yang lebih penuh tekanan. Kadang terkurung di satu lantai bersuhu minus seakan-akan kami ini ikan segar, kadang terbang kesana kemari melintasi pulau mengabadikan kecantikan Indonesia dalam tayangan demi kepentingan industri.
Ahh...kangennya pada anak-anak. Mereka dengan ajaib mampu membuat saya energik sekaligus sabar. Bahkan, di titik rendah hidup saya, saya masih sanggup meladeni mereka dengan keingintahuan dan keceriwisan khas bocah. Lama sekali saya tidak berinteraksi dengan mereka, berbagi energi, bersentuhan dengan dunia yang jujur.

Kadang terasa, yang saya jalani sekarang tidak lagi memberikan energi positif yang saya butuhkan untuk mengenyahkan ruang kosong dalam jiwa, bahkan semakin lama menggerogoti saya pelan-pelan menjadi manusia individualis yang bagian terbesar dalam alam pikirinya adalah pekerjaan. Sering saya merasa tidak seimbang.

Saya rindu bersentuhan dan terlibat dalam dunia yang dulu pernah saya geluti. Saya rindu anak-anak. Saya rindu mengajar. Saya rindu berbagi hidup saya tidak hanya dengan pekerjaan tapi dengan masyarakat. Saya ingin menemukan kembali 'gairah' yang dulu pernah menyala dan membakar saya.
posted by ninabelle at 17:00 | 2 comments
Selasa, 25 Agustus 2009

" Cinta adalah kemampuan dan kemauan untuk memperbolehkan orang yang Anda kasihi menjadi apa yang mereka inginkan tanpa memaksakan kehendak Anda" (Wayne Dyer)

Petikan kata-kata yang membuat saya merenung sepanjang sore ini sampai kaya ada yang berantem gitu di dalam nurani saya. Seringkali kemampuan dan kemauan tidak berbanding lurus, demikian pula dalam hal mengasihi- tidak hanya mengasihi kekasih lho ya. Dalam hidup, manusia hampir selalu berekspektasi terhadap orang lain. Misalnya, sayang sama sahabat dekat yang selalu standby buat jadi tempat curhat, temen jalan, temen makan, berpenampilan trendy (hello...emangnya sang sahabat ga punya kehidupan lain apa dan please deh dia kan ga harus mendadak fashionable buat sekadar jalan bareng kita...hehe), atau sayang banget jika orangtua baikhati yang rela mengucurkan rupiah tanpa batas untuk memuaskan nafsu hedonisme kita (hare gene, cari duit sendiri donk ah;p), atau cinta mati hanya kalo pacar siaga 24 jam siap nemenin kita kala senang dan sedih yang berimbas pada terbunuhnya kehidupan sosial sang pacar (ihh...ga tau apa kalo manusia bakal tertekan kalo diiket termasuk kekasih hati meski cintanya setengah mati sama kita?).

Satu sisi nurani saya percaya mengasihi itu kan ga pake kata jika, andai atau kalau. Mengasihi itu kan bukan memaksakan keinginan kita pada orang yang kita kasihi. Katanya sih mengasihi itu tanpa syarat. Tapi sisi yang lain mempertanyakan kasih yang bebas nilai, apakah bisa manusia biasa mampu dan mau mengasihi dengan sempurna seratus persen pada manusia lainnya, apakah mampu menisbikan egoisme yang melekat pada diri manusia. Ya mungkin ga bakal ada titik temunya, mungkin jawabannya adalah berkompromi. Saya rasa manusia memiliki fleksibilitas untuk berkompromi sehingga mampu dan mau memperbolehkan orang-orang yang kita kasihi menjadi apa yang mereka inginkan tanpa memaksakan kehendak pribadi kita.
Semoga saya juga mampu dan mau mengasihi dengan cara yang indah seperti itu;)
posted by ninabelle at 19:37 | 2 comments
Jumat, 21 Agustus 2009

Siapakah dirimu di sudut kamar itu?
Menangis seolah-olah tangisanlah musik pengiring hidupmu.
Kamu begitu jauh tak terjangkau, meski hanya berjarak seuluran tangan saja dari sini.
Kepiluan itu begitu kokohnya menembok hatimu.
Kurayu dengan pujian, ice cream vanilla kesukaanmu dan teddy bear idamanmu, kau tak bergeming.
Janganlah beku hatimu, jangan pernah.
Dengarlah lagu indah yang berasal dari entah, tidakkah kau akan sedikit terhibur?
Tengoklah dunia warna warni di sekitarmu yang biasanya kau cinta, tidakkah mampu mengobatinya?
Lekaslah berbinar
Ada yang menantimu bersinar

posted by ninabelle at 18:26 | 2 comments
Hai sepi,
tak inginkah mengucapkan sesuatu
atau bercerita padaku
jangan diam saja-kau dengan pelan membunuhku
menyayat jantungku yang rapuh
mendorongku ke jurang tak berujung

Aku benci sepi
posted by ninabelle at 11:39 | 3 comments
Kamis, 13 Agustus 2009
Matur sembah nuwun Gusti...
Yang berulang terucap dari mulut saya adalah rasa syukur atas kehidupan yang luar biasa,
kehidupan yang terbungkus karunia indah dalam segala wujud pengalaman dan pembelajaran
kehidupan yang diwarnai oleh kasih sayang dari orang tua, keluarga, kekasih, sahabat
Terima kasih Tuhan
Kau beri hidup yang baik untuk saya
posted by ninabelle at 12:02 | 0 comments
Senin, 10 Agustus 2009

God creates a man and a woman
So that they can completing each other
Accompanying one another
walking through the world
Maybe that's why they are not same
posted by ninabelle at 16:21 | 0 comments
Jumat, 31 Juli 2009

July almost ends in a few hours ahead
Sometimes i feel time runs slowly
and I move too fast
with what I thought
I run forward try to catch it up
Seems that I should give some times to myself
To contemplating
To count my blessing
Though still I need share my life
wish this gonna be easier to through
Patience come to my way somehow
Give me undescribable strength
to make it lighter
I shall not ask
I believe, I never walk, run or even just stand still
alone
posted by ninabelle at 11:07 | 0 comments