Selasa, 22 April 2008

Mengapa kita hidup?
Pasti ada alasan di balik penciptaan manusia ke dunia. Selalu ada alasan untuk keberadaan kita. Namun kita selalu diberi pilihan apakah kita akan memaksimalkan modal yang diberikan untuk memenuhi alasan hidup kita atau hanya 'sekedar' menjalani hidup. 'Sekedar' disini artinya hidup sekedarnya saja, membiarkan moment-moment berlalu begitu saja, melewatkan kesempatan baik untuk membuat hidup lebih bermakna, menunggu dan bergantung pada nasib.
Setiap orang memiliki pilihan, jika tidak ingin sekedar menjalani hidup, kita bisa mewarnai hidup dengan krayon warna-warni. Salah satunya dengan memiliki visi dalam hidup dan menjadikan visi itu pacuan untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Manusia yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia pada hakekatnya untuk ada bagi sesama dan lingkungannya. Manusia yang sadar bahwa hidup ini terlalu sia-sia untuk dilalui tanpa makna. Meski langkah itu kecil, hendaknya manusia memulai sebuah langkah untuk kebaikan dunia. Si skeptis akan memandang ide ini sebagai wujud sikap sok idealis karena orang-orang skeptis tak punya keberanian untuk berpikir besar, mereka menjadikan visi atau impian sesuatu yang jauh di angan-angan dan menjadikan realitas sebagai penghalang. Bertolak belakang dengan itu, dengan visi dan impian, sang optimis justru akan merasa terpacu-adrenalinnya menggelegak mewujudkan visinya terlepas dari berhasil atau tidak, langkah-langkah mutlak diusahakan. Kita bisa memilih untuk menjadi si skeptis atau sang optimis, untuk memiliki visi atau terkungkung dalam realitas, untuk memaknai hidup atau hanya sekedar hidup, untuk bermanfaat bagi orang lain atau hanya sembunyi dalam tempurung ego.
Kita manusia, kita bebas memilih mengapa kita hidup? Dan ingin hidup dengan cara apakah kita?
posted by ninabelle at 12.03 |

0 Comments: